Satu Statistik untuk Tiap Jejaring Sosial yang akan Meyakinkan Atasan Anda

Blog   /   Social

Tidak peduli berapa banyak orang di dunia yang menggunakan media sosial, tidak peduli berapa banyak cerita kesuksesan bisnis yang muncul, tidak peduli berapa banyak teknologi baru yang muncul untuk mengisi celah bisnis tertentu, beberapa atasan masih belum yakin akan pentingnya media sosial. Tetapi satu hal yang disukai atasan-atasan di seluruh dunia, tidak peduli seberapa terbuka mereka terhadap nilai strategi media sosial yang efektif, adalah data. Jika pemimpin dalam organisasi Anda ragu (atau, jika Anda sendiri yang tidak yakin) maka Anda membutuhkan data.

Postingan ini berguna bagi atasan yang hanya bisa diyakinkan betapa pentingnya media sosial ketika dikaitkan dengan sasaran bisnis yang lebih luas—dan lebih bagus lagi jika terkait dengan tambahan pendapatan. Kami telah mengidentifikasi statistik media sosial untuk setiap jejaring sosial utama yang secara khusus menyampaikan return on investment (ROI) atas bisnis mereka. Inilah statistik, dan cerita di belakangnya, yang akan mengaitkan media sosial ke tujuan bisnis yang lebih luas dan meyakinkan atasan Anda untuk mengikutinya. Silahkan dilihat.

Facebook

Facebook Stats

Penggemar Facebook Page sebuah bisnis akan membeli 35 persen lebih banyak daripada pelanggan biasa.

Seringkali orang menyamakan kesuksesan media sosial dengan merek yang seksi, seperti Nike atau Redbull. Tetapi statistik ini datang dari studi selama empat tahun atas sebuah toko eceran kebutuhan sehari-hari yang besar, dan tidak ada yang seksi tentang toko eceran. Namun, bisnis ini berhasil menarik penggemar di Facebook yang besar dan mewujudkan hubungan di media sosial tersebut menjadi penjualan.

Statistik ini merupakan contoh yang sangat bagus atas pentingnya memiliki sebuah Facebook Page, tetapi tidak berhenti di situ saja. Bukan saja penggemar Facebook Page akan lebih banyak membeli, penggemar Facebook Page yang sempat berinteraksi dengan merek membeli jauh lebih banyak lagi. Studi yang sama menunjukkan bahwa penggemar yang berinteraksi dengan Facebook Page toko itu minimal 10 kali membeli 95 persen lebih banyak daripada pelanggan biasa, yang berarti peningkatan sebesar $1.000 lebih.

Sebuah Facebook Page yang penuh interaksi benar-benar bisa meningkatkan pelanggan di toko Anda, dan mendorong peningkatan pembelian setelah mereka tiba di toko. Lebih dari 75 persen laba toko bahan makanan di dalam studi diperoleh dari 25 persen pelanggan yang menjadi penggemar Facebook Page mereka. Lebih dari 75 persen? Akan sulit bagi mengabaikan angka tersebut.

Twitter
Twitter Stats

54 persen pengguna Twitter telah mengambil tindakan setelah melihat sebuah merek yang disebut dalam sebuah Tweet.  

Statistik ini, dari survei atas 12.000 pengguna Twitter, awalnya terlihat kurang meyakinkan. Apakah yang dimaksud dengan mengambil tindakan? Jika itu berarti membeli sesuatu, mereka kan seharusnya sudah mengatakannya.

Walau ‘mengambil tindakan’ dalam hal ini tidak berarti membeli, mengambil tindakan di sini berkaitan dengan tujuan online yang penting untuk semua bisnis. Karena 23 persen pengguna Twitter tersebut, setelah melihat merek itu mereka akan mengunjungi situs webnya. 20 persen yang lain mencari merek itu secara online, sementara 19 persen mengatakan mereka mau mempertimbangkan mencoba merek tersebut setelah melihatnya disebutkan dalam sebuah Tweet.

Ada dua poin penting yang dapat diambil dari data ini. Yang pertama yaitu semua penyebutan merek ini adalah penyebutan yang didapatkan (earned mentions). Ini berarti merek tersebut tidak membeli iklan atau membayar untuk mendapatkan exposure yang menghasilkan berbagai tindakan ini. Ketika separuh dari orang-orang yang melihat penyebutan merek Anda pergi ke Twitter lalu mengambil tindakan, Anda mendapatkan laba yang mudah dan jelas dari investasi media sosial Anda.

“Baiklah, lalu bagaimana kita bisa mendapatkan penyebutan merek-merek itu?” Ketika atasan Anda menanyakan pertanyaan itu, Anda dapat memberikan statistik yang mengatakan bahwa 53 persen orang-orang di Twitter merekomendasikan produk dalam Tweet mereka. Jadi, untuk poin kedua, sebagian besar merek sudah disebutkan di Twitter. Merek yang memiliki banyak interaksi di media sosial akan lebih banyak disebut dengan meningkatkan pengikut mereka dan menciptakan konten yang bermanfaat dan dapat disebarkan. Keberadaan yang kuat di Twitter, digabungkan dengan kecenderungan alami pengguna untuk nge-tweet mengenai merek, sama dengan banyaknya penyebutan merek, dan semua tindakan yang mengikutinya.

LinkedIn

LinkedIn

Lebih dari 80 persen prospek B2B (bisnis ke bisnis) yang dihasilkan media sosial datang dari LinkedIn.

Jika ada jejaring sosial yang atasan Anda mungkin tidak perlu terlalu diyakinkan, itu adalah LinkedIn. Manfaat LinkedIn untuk para profesional sudah lama terbukti. LinkedIn dimulai sebagai alat rekrutmen karyawan tetapi dengan cepat berubah menjadi aset networking dan penjualan.

Statistik di atas mengilustrasikan bahwa LinkedIn merupakan alat penjualan yang sangat bermanfaat, khususnya ketika berkaitan dengan penjualan B2B (bisnis ke bisnis). Jejaring sosial yang paling dekat di belakangnya, Twitter, hanya menghasilkan sekitar 13 persen prospek untuk B2B dari media sosial. Data yang lebih lama dari HubSpot menunjukkan bahwa LinkedIn 277 persen lebih efektif untuk lead generation daripada Facebook atau Twitter.

Bagaimana biaya atas prospek-prospek tersebut? Blog Newscred menggunakan LinkedIn Sponsored Updates untuk menghasilkan nama para prospek, langkah pertama dalam lead generation mereka. Mereka menemukan kalau biaya per nama dari menggunakan LinkedIn 20 persen lebih rendah dari pemasangan iklan biasa dan 75 persen lebih rendah daripada Google Adwords. Nama-nama tersebut juga terkualifikasi lebih baik, membuat mereka mendapat pemasukan $17,60 untuk setiap satu dolar yang dikeluarkan untuk biaya Sponsored Updates itu—lebih dari tiga kali lipat pengembalian atas Google Adwords mereka.

Setelah prospek-prospek tersebut dihasilkan, 77 persen dari praktisi pemasaran B2B mengatakan mereka telah berhasil mendapatkan klien baru melalui LinkedIn. Dengan kata lain, LinkedIn merupakan alat penghasil prospek yang penting jika usaha Anda adalah B2B. Jadi tidak mengherankan kalau LinkedIn digunakan oleh 91 persen praktisi pemasaran B2B.

Jika Anda adalah seorang tenaga penjualan perorangan, LinkedIn memiliki segala macam data yang mengilustrasikan betapa bergunanya jejaring sosial bagi pekerjaan sehari-hari Anda. Sebagai contoh, kemungkinan Anda untuk bisa meeting dengan prospek akan 70% lebih besar jika Anda menyebutkan Grup LinkedIn yang sama dengan mereka. Selain itu, staf pencari klien baru yang berhasil mencapai kuota mereka membuat 39% lebih banyak interaksi di LinkedIn setiap bulannya (dengan memberikan Like, memberi komentar, atau melakukan reshare).

Snapchat

Snapchat stats

58 persen mahasiswa akan cenderung membeli dari sebuah merek atau menggunakan layanan mereka jika dikirimi kupon snapchat

Ya, itu bukan salah ketik. Kata yang penting adalah “cenderung,” yaitu cenderung membeli dengan kupon Snapchat daripada semua insentif lainnya. Statistik ini didapat dari perusahaan Pemasaran Sumpto, yang melakukan jajak pendapat atas 1.600 mahasiswa yang terbiasa menggunakan media sosial. Dari para mahasiswa ini, 77 persennya menggunakan Snapchat setiap hari, 67 persen juga mau menerima diskon dan kupon dari berbagai merek di Snapchat. Mereka menginginkan alasan untuk membeli dari Anda.

Masalahnya adalah membuat para mahasiswa ini masuk ke Snapchat untuk mengikuti merek Anda, kan? Sebenarnya, 45 persen mahasiswa mau membuka snap dari merek yang tidak mereka kenal, dibandingkan dengan 73 persen yang mau membuka snap dari merek yang mereka kenal. Itu adalah perbandingan yang cukup bagus. Peluang ini akan meningkat jika Anda bisa berhubungan dengan penggemar di media sosial yang sudah ada di jejaring lain. Sekitar 69 persen mahasiswa mau menambahkan merek yang mereka ikuti di jejaring sosial lain sebagai teman di Snapchat.

Jika bisnis Anda memasarkan ke mahasiswa dan kawula muda, ini seharusnya sudah lebih dari cukup untuk meyakinkan atasan Anda mengenai Snapchat.

Instagram

Instagram stats

Dalam lebih dari 475 kampanye global, pengenalan iklan dari postingan berbayar di Instagram 2,9x lebih tinggi daripada standar normal Nielsen untuk pemasangan iklan online.

Instagram bukan hanya tentang foto selfie dan sunset. Statistik ini, yang diukur dengan Nielsen Brand Effect, menunjukkan betapa besar dampak foto Instagram—bahkan ketika dibuat sebagai iklan—pada para pengikut Anda.

Ini tidak mengejutkan mengingat betapa pentingnya Instagram sekarang ini bagi orang biasa dan juga bagi berbagai merek. Di antara remaja Amerika, Instagram dianggap sebagai satu-satunya jejaring sosial yang paling penting. Forrester juga menyebut Instagram sebagai “raja interaksi di media sosial,” dengan mengutip fakta bahwa postingan Instagram dari merek terkenal menghasilkan interaksi per pengikut sebesar 4,21 persen. Itu berarti Instagram memberi merek-merek ini 58 kali lebih banyak interaksi per pengikut daripada Facebook, dan 120 kali lipat lebih banyak interaksi per pengikut daripada Twitter.

Bahwa interaksi di Instagram ini dapat menghasilkan pembelian juga telah dikonfirmasi oleh Shopify. Lebih dari satu persen pengunjung yang tiba di situs Shopify lewat Instagram akan membeli sesuatu (lebih dari Twitter, Pinterest dan LinkedIn), dan harga rata-rata pemesanan adalah $65, rata-rata tertinggi di antara jejaring sosial.

Pinterest

Pinterest stats

96 persen pengguna Pinterest telah menggunakan jejaring sosial untuk melakukan riset dan mengumpulkan informasi produk sementara 93 persen telah menggunakannya untuk membuat rencana pembelian.

Pinterest telah lama diakui sebagai surga bagi toko retail, karena langsung dari awalnya, jejaring sosial ini telah menjadi tempat untuk berbagi informasi atas barang yang Anda impikan untuk dibeli. Nah, data ini, dari survei atas pengguna Pinterest oleh Millward Brown Digital, sangat membuktikan bahwa Pinterest bukan cuma tempat untuk memposting barang impian, tetapi juga tempat di mana sebenarnya keputusan untuk membeli dibuat.

Survei yang sama menentukan bahwa 87 persen pengguna mendapatkan interaksi di Pinterest membantu mereka menentukan apa yang akan dibeli, sebuah contoh lain atas kekuatan bukti hubungan sosial di media sosial. Jadi Pinterest membantu orang mengumpulkan infomasi atas produk, menentukan apa yang akan dibeli dan merencanakan pembelian mereka.

Itu seharusnya sudah cukup untuk segala merek, tetapi jika belum, mari kita lanjutkan ke pembelian yang sebenarnya. Pinterest hanya tertinggal dari Facebook ketika berbicara tentang volume rujukan ke situs web yang dihasilkannya. Saya juga mampu menemukan statistik lain, dari praktisi content marketing ternama, Jeff Bullas, bahwa 88 persen pengguna Pinterest telah membeli produk yang mereka pin di board Pinterest mereka. Saya tidak bisa menemukan sumber riset lain yang handal untuk mendukungnya (itulah mengapa saya tidak menyorotinya di atas), tetapi dengan mempertimbangkan data di atas, angka 88 persen itu tampaknya tidak terlalu jauh.

Google+

Google+ Stat

Penggunaan Google+ di antara para praktisi pemasaran meningkat sebesar 2 persen pada tahun 2015, ke 56 persen. Lebih tinggi dari YouTube, Pinterest dan Instagram.

Sudah berapa lama kita meramalkan kematian Google+? Setiap kali Google mengumumkan fitur atau produk baru, kita mendengar bel kematian Google+ berbunyi dan mengatakan bagaimana tidak ada orang yang menggunakannya. Ini menjadi cara yang mudah bagi atasan yang sudah dari awal tidak yakin akan jejaring sosial.

Kecuali orang-orang memang menggunakan Google+, dan mereka adalah tipe pengguna yang dapat menguntungkan merek Anda di ranah online.

Statistik ini, dari Social Media Examiner mengenai laporan Social Media Marketing Industry tahun 2015, menunjukkan bahwa praktisi pemasaran semakin sering menggunakan Google+. Penanjakan tren ini cenderung berlanjut, karena 78 persen dari mereka berencana mempertahankan aktivitas Google+ mereka, atau bahkan meningkatkannya tahun depan.

Bagi yang menggunakan Google+, jejaring ini lebih populer di antara praktisi pemasaran B2B, yang 61 persennya menggunakannya untuk bisnis. Google+ juga menonjol di antara praktisi pemasaran yang berpengalaman, di mana Google+ hanya kalah dari Facebook dan LinkedIn di antara para praktisi yang memiliki tiga tahun pengalaman dalam media sosial atau lebih.

Jadi, apa arti semuanya ini? Ini berarti bahwa semakin banyak praktisi pemasaran yang mendapatkan sesuatu yang bermanfaat dari jejaring sosial yang kalah pamor ini, khususnya dalam bisnis B2B. Mereka menolak pendapat populer tentang jejaring sosial karena mereka telah melihat betapa bersemangat dan loyal para penggunanya. Bahkan, Google+ hanya ada di belakang YouTube dalam kualitas rujukan pengunjungnya, dengan pengguna mereka yang lebih banyak meluangkan waktu di situs dan mengunjungi lebih banyak halaman dibandingkan rujukan pengguna dari Twitter atau Facebook. Ini mencerminkan pengalaman kami sendiri di Google+, di mana kami mendapatkan duta merek yang sangat bersemangat dan terbuka dalam berinteraksi dengan merek.

Saya akui, ini tidak memiliki daya tarik tambahan pendapatan atau kekuatan ROI yang dimiliki oleh statistik lain dalam daftar ini, tetapi angka 56 persen dari praktisi pemasaran mungkin masih cukup besar untuk mengubah pendapat atasan Anda terhadap Google+.